Laga.id, Surabaya – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur resmi mengintegrasikan teknologi visual coaching ke dalam sistem pemusatan latihan guna memacu performa atlet menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri II 2026 di Sulawesi Utara.
Langkah strategis berbasis sport science ini diterapkan sebagai standar baru bagi para pelatih cabang olahraga (cabor) dalam menyusun program latihan yang lebih terukur dan akuntabel di Surabaya, Senin (16/3/2026).
Ketua Umum KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, menjelaskan bahwa sistem visual coaching merupakan hasil kolaborasi dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Platform digital ini dirancang khusus untuk mempermudah pelatih dalam merancang periodisasi latihan yang sinkron dengan data performa atlet di lapangan.
“Visual coaching ini memberikan gambaran umum mengenai program latihan yang bisa menjadi panduan bagi pelatih dalam menyusun program latihan. Program tersebut juga harus dimasukkan ke dalam sistem agar dapat dipantau dan dievaluasi,” ujar Nabil saat memberikan keterangan di Kantor KONI Jatim.
Melalui sistem ini, setiap pelatih wajib menyusun skema latihan yang kemudian didampingi langsung oleh Badan Pelaksana (Bapel) Pusat Latihan Daerah (Puslatda) serta Badan Sport Science (BSS) KONI Jatim. Sinergi ini bertujuan memastikan metode yang diterapkan memiliki standar kualitas yang seragam di seluruh disiplin bela diri.
“Nanti kami akan memberikan masukan dan arahan. Selain itu, juga akan ada kunjungan untuk mengonfirmasi program latihan agar terdapat keseragaman pola latihan meskipun berasal dari cabor yang berbeda,” jelasnya.
Nabil merinci bahwa struktur kepelatihan akan terbagi menjadi dua pilar utama, yakni program latihan umum sebagai fondasi fisik dan program spesifik yang disesuaikan dengan kondisi serta target individu setiap atlet.
Pasca-Lebaran, KONI Jatim dijadwalkan memanggil para pelatih untuk mempresentasikan model latihan tersebut di hadapan tim pakar guna memastikan efektivitasnya dalam memburu prestasi tertinggi.
“Tujuan kita adalah memperoleh medali sebanyak-banyaknya. Untuk itu harus ada target yang jelas. Jika target tersebut tercapai, maka hasil yang diharapkan juga bisa terpenuhi,” tegas Nabil.
Selain proyeksi PON Bela Diri 2026, sistem ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju Babak Kualifikasi (BK) PON XXI 2028. Nabil menekankan bahwa Puslatda dijadwalkan mulai beroperasi secara intensif pada April mendatang untuk mematangkan kesiapan fisik dan mental atlet.
“Puslatda rencananya mulai berjalan pada April. Dari situ kita mulai mempersiapkan berbagai tahapan, mulai dari target mengikuti event, kemudian BK PON, hingga akhirnya tampil di PON yang sebenarnya,” pungkasnya.
Modernisasi pembinaan melalui digitalisasi program ini menjadi sinyal kuat keseriusan Jawa Timur dalam mempertahankan dominasi di kancah olahraga nasional melalui pendekatan ilmiah yang presisi. (*)



