Laga.id, Nyon – FIFA akhirnya resmi membatalkan proyek penjualan saham Piala Dunia akibat gelombang penolakan keras dari puluhan asosiasi anggota global yang memicu ancaman boikot masif, Nyon, Sabtu (1/8/2026).
Dalam rilis yang dikirim FIFA, Sabtu (1/8/2026), FIFA menyatakan proposal soal proyek FIFA Forward Enterprise tak akan dilanjutkan. Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan bahwa proyek tersebut terbukti menimbulkan perpecahan serius yang tidak lagi sejalan dengan tujuan awal organisasi.
Selain itu, pria asal Swiss itu menghadapi tekanan besar untuk mempertahankan kursi kepemimpinannya menjelang Kongres FIFA pada Maret 2027. Proyek FIFA Forward Enterprise dimaksudkan untuk menjadi landasan dalam memperkuat lebih lanjut Asosiasi Anggota FIFA dan olahraga kami di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan.
“Terlebih lagi, sebagaimana telah kami sampaikan sejak awal, hal ini hanya akan dilakukan jika mayoritas Asosiasi Anggota FIFA mendukungnya dan selalu melalui proses konsultasi dengan mereka, Dewan FIFA, Konfederasi, serta pemangku kepentingan lainnya,” bunyi pernyataan resmi FIFA.
Setelah mendengarkan dengan saksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menimbulkan perpecahan yang, terlepas dari tingkat dukungannya, tidak lagi sejalan dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal.
Tujuan kami selalu-dan akan selalu-adalah untuk mempersatukan dan meningkatkan.
Oleh karena itu, usulan ini tidak akan dilanjutkan.
Ke depan, niat saya adalah untuk kembali mempertemukan semua pihak yang berkepentingan dalam beberapa hari dan minggu mendatang, dengan semangat kepentingan bersama dalam olahraga kami, serta dengan tujuan untuk terus mengembangkan sepakbola di mana-mana, terutama di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan kami.
Penolakan UEFA dan Ancaman Boikot Saham Piala Dunia
Sebelum keputusan pembatalan diambil, sebanyak 55 asosiasi anggota UEFA sepakat memboikot seluruh kompetisi resmi apabila rencana penjualan komersial itu disetujui. Padahal, FIFA berencana membentuk anak perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise agar investor swasta dapat membeli kepemilikan minoritas tanpa kendali.
Konfederasi Concacaf juga menyatakan bahwa 41 anggotanya telah menolak proposal kontroversial tersebut dalam rapat darurat. Di sisi lain, Wakil Presiden UEFA Laura McAllister menilai rencana tersebut sebagai ancaman eksistensial nyata bagi ekosistem olahraga global.
“Kami secara bulat dan tanpa keraguan menolak proposal FIFA untuk mengalihkan kepemilikan atas Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta,” tegas pernyataan UEFA yang lebih keras, Kamis (30/7/2026).
Ini bukan sekadar kegagalan kepemimpinan yang mendalam, tetapi juga pengabaian tanggung jawab FIFA sebagai penjaga sepak bola dunia.
Asosiasi nasional di seluruh dunia kini dihadapkan pada sebuah ultimatum: menerima pengambilalihan permanen atas kompetisi terbesar dalam sepak bola atau menanggung konsekuensinya.
Ini bukan sebuah ‘keputusan demokratis’, melainkan tata kelola melalui intimidasi, sebuah tindakan pemaksaan yang tidak layak dilakukan oleh institusi yang dipercaya mengelola permainan global ini.
Kenyataan kami tidak memiliki pilihan selain mengeluarkan ancaman yang sepadan dengan proposal mengerikan dan katastrofik ini, yang dipaksakan tanpa uji kelayakan, tanpa tata kelola yang layak, dan tanpa konsultasi.
Sikap PSSI dan Dukungan Erick Thohir Terhadap Saham Piala Dunia
Meskipun menuai kecaman dari Eropa dan Amerika Utara, Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, secara terbuka memberikan dukungan penuh terhadap langkah Gianni Infantino.
Sebelumnya, dia menilai suntikan dana dari investor eksternal sangat dibutuhkan untuk mendanai akselerasi transformasi sepak bola di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Erick juga menekankan bahwa pembenahan manajemen dan peningkatan prestasi tim nasional memerlukan dukungan finansial yang kuat melalui kemitraan strategis. Terlebih lagi, kehadiran FIFA Hub di Jakarta sejak tahun 2025 menjadi bukti nyata eratnya kerja sama strategis antara Indonesia dan badan sepak bola dunia tersebut.
“Sepak bola Indonesia telah bertransformasi dalam tiga tahun terakhir. Kami telah melakukan pembenahan,” kata pria yang juga pemilik klub Liga Inggris, Oxford United, seperti dikutip dari Sky News, Jumat (31/7/2026).
“Peringkat tim nasional naik dari 174 ke 118. Untuk melanjutkan transformasi ini, kami membutuhkan pendanaan. Jika anggota FIFA menyetujuinya, itu menunjukkan memang ada kebutuhan agar kesepakatan ini terlaksana,” lanjut Erick.
Meskipun kontroversi ini sempat membelah opini publik global, pembatalan proyek komersial tersebut pada akhirnya mengembalikan fokus FIFA pada misi persatuan lintas benua. Langkah tegas Infantino menutup celah perpecahan panjang, sementara negara-negara berkembang kini menantikan komitmen nyata alternatif demi masa depan sepak bola dunia yang inklusif. (*)



