Laga.id, Surabaya – Lambannya penyelesaian renovasi Kolam Renang Kertajaya Surabaya menuai sorotan dari pelatih renang Jawa Timur, Mochammad Umam. Selain itu, fasilitas latihan yang berada di bawah pengelolaan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jatim itu belum juga dapat dimanfaatkan setelah hampir dua tahun direnovasi
Situasi ini tentu mengganggu program pembinaan atlet menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Umam menilai keterlambatan tersebut telah membuat proses Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Mandiri berjalan jauh dari ideal. Akibatnya, atlet yang seharusnya ditempa dalam satu program latihan terpusat justru harus berpencar di sejumlah kolam renang dengan fasilitas yang berbeda-beda.
“Dampaknya sangat terasa. Atlet tidak lagi berlatih dalam satu sistem. Misalnya, ada yang latihan di Kolam Renang Arhanud, Kolam Renang Delta Sidoarjo, hingga Kolam Renang Saigon di Pasuruan bersama klub masing-masing. Karena terpisah, kami kesulitan memonitoring aktivitas mereka,” kata Umam di Surabaya, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pukulan bagi upaya Jatim mempertahankan dominasi cabang olahraga akuatik setelah sukses menyumbangkan 11 medali emas pada PON Aceh-Sumut 2024. Terlebih lagi, raihan itu terdiri atas enam emas dari nomor renang dan loncat indah serta lima emas dari nomor renang perairan terbuka (open water swimming/OWS).
Dampak Renovasi Kolam Renang Kertajaya pada Latihan Atlet
Umam mengatakan, hingga kini terdapat 13 atlet yang masuk dalam program Puslatda Mandiri. Kendati demikian, dari jumlah tersebut, sembilan atlet yang berdomisili di Jatim seharusnya dapat menjalani latihan bersama di Kolam Renang Kertajaya apabila renovasi telah selesai.
Ia menegaskan, latihan yang terpecah di berbagai lokasi membuat pelatih kesulitan menyamakan program, mengawasi perkembangan atlet, hingga melakukan evaluasi secara menyeluruh.
“Kalau di Kertajaya, anak-anak bisa latihan bareng, nge-gym bareng dan fokus. Oleh karena itu, setiap saat kami juga bisa melakukan evaluasi untuk memaksimalkan potensi atlet,” ujarnya.
Persoalan tidak berhenti pada lokasi latihan. Umam mengungkapkan sebagian besar kolam yang digunakan saat ini belum memiliki fasilitas yang setara dengan arena pertandingan. Mulai dari lintasan yang tidak mampu memecah gelombang, tidak tersedianya start block, hingga ukuran kolam yang belum memenuhi standar internasional.
Faktanya, kualitas latihan dinilai menurun dan berdampak langsung terhadap performa atlet.
“Keterbatasan semua fasilitas itu sangat memengaruhi performa atlet, terutama catatan waktu terbaiknya. Selanjutnya, hal itu bisa dilihat dari hasil Kejurnas pada Mei 2026 lalu, di mana banyak atlet kita, khususnya yang berdomisili di Jatim, tidak bisa mencapai best time-nya. Saya tidak bisa sebutkan detailnya, tapi kami memiliki semua catatannya,” ungkapnya.
Beban Biaya dan Target PON 2028 Terancam
Di sisi lain, Pengprov Akuatik Jatim juga harus menghadapi beban pembiayaan yang tidak ringan. Untuk mengatasi hal tersebut, guna menggelar latihan bersama, mereka harus menyewa kolam renang dengan biaya mencapai jutaan rupiah setiap sesi, sehingga keterbatasan anggaran membuat latihan terpusat hanya dapat dilakukan satu hingga dua bulan sekali.
“Kami bisa latihan bersama sebulan atau dua bulan sekali di Kolam Renang Saigon, Pasuruan. Ini karena keterbatasan dana yang kami miliki. Namun, ini masalah serius yang tidak bisa kami atasi sampai detik ini,” tutur Umam.
Ia menambahkan, keterbatasan fasilitas juga berdampak pada mental atlet. Menurutnya, atlet yang terbiasa berlatih di fasilitas berkualitas akan kehilangan kenyamanan ketika harus menggunakan kolam dengan kondisi yang kurang layak.
Berdasarkan informasi yang diterima Pengprov Akuatik Jatim, progres renovasi Kolam Renang Kertajaya kini telah memasuki tahap akhir dan ditargetkan mulai dapat digunakan pada Agustus 2026.
Meski demikian, Umam menilai waktu yang tersisa menuju PON 2028 semakin sempit, sehingga ia khawatir keterlambatan yang telah terjadi akan menyulitkan atlet mengejar peningkatan performa secara maksimal.
“Untuk meningkatkan catatan waktu itu tidak instan. Jadi sulit bagi anak-anak. Bahkan, jangankan melebihi raihan medali PON kemarin, menyamai saja susah,” tegasnya.
Saat ini, sembilan atlet Puslatda Mandiri menjalani latihan di Jatim, sementara tiga atlet lainnya berlatih di Jakarta, Malaysia, dan Amerika Serikat. Menurut Umam, atlet yang berlatih di luar Jatim tidak mengalami kendala berarti karena memiliki akses terhadap fasilitas latihan yang lebih memadai.
Sorotan tersebut menjadi sinyal bahwa penyediaan sarana latihan berstandar merupakan faktor penting dalam menjaga daya saing Jatim di cabang olahraga akuatik. Ketika waktu terus berjalan menuju arena impian, tuntasnya renovasi Kolam Kertajaya adalah harga mati demi kejayaan prestasi renang provinsi ujung timur Jawa ini di masa depan! (*)



